Winny Oktavina Sang Penerus Butet Terlahir Kembali di Turnamen Internal PBSI

Posted on

Winny Oktavina Sang Penerus Butet Terlahir Kembali di Turnamen Internal PBSI – Seperti saya tulis sebelumnya, sejak akhir Juni hingga akhir Juli nanti, PP PBSI bekerja sama dengan Mola TV, menggelar kompetisi home tournament. Para pebulutangkis Pelatnas di semua sektor (tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran) tampil dalam kompetisi internal. Mereka bermain melawan rekan sendiri.

Winny Oktavina Sang Penerus Butet Terlahir Kembali di Turnamen Internal PBSI

Turnamen ini dikemas berbeda dengan game yang mereka mainkan selama latihan. Ada referee, wasit, hakim servis, hakim garis, serta team match control. Plus hadiah bagi pemenang. Selengkapnya ada di sini. Turnamen ini memainkan sektor tunggal putra. Sebelumnya, ganda putra menjadi pembuka dengan pasangan Fajar Alfian/Yeremia Erich yang jadi juara. Dan, akhir pekan kemarin, sektor ganda campuran berakhir seru.

Di sektor ganda campuran, pasangan terbaik Indonesia saat ini, Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti, tampil sebagai pemenang. Namun, sorotan khusus tertuju pada pasangan yang mereka kalahkan di final, yakni Akbar Bintang Cahyono dan Winny Oktavina Kandow. Utamanya Winny. Bagi remaja asal Sulawesi Utara ini, turnamen tersebut punya makna lain. Bukan hanya ajang untuk pemanasan. Bukan pula sekadar melepas rindu di masa kevakuman turnamen akibat pandemi.

Winny (21 tahun) seperti ingin memberi pengumuman ke semua orang di PP PBSI. Termasuk ke para badminton lovers di Indonesia. Pengumuman bahwa dirinya pemain muda potensial. Dia ingin menunjukkan bisa move on dari cerita lalu. Cerita yang berawal pada akhir tahun 2018 silam. Ketika PBSI melalui pelatih ganda campuran, memutuskan untuk menjodohkan Winny dengan pemain senior, Tontowi Ahmad. Mereka berpasangan sepanjang tahun 2019.

Bagi Winny itu keputusan besar untuk karier bulutangkisnya

Keputusan yang bisa membuat dirinya naik dalam waktu cepat ke panggung teratas bulutangkis dunia. Betapa tidak, dirinya akan bermain dengan Tontowi. Pemain yang telah meraih hampir segalanya kala bermain dengan Liliyana Natsir. Dari juara All England, juara dunia, hingga meraih emas Olimpiade 2016. Tentu saja, Winny akan mendapat sorotan media internasional lebih besar dibanding sebelumnya. Bahkan, ketika PBSI memutuskan memilih dia sebagai pendamping Tontowi, itu sudah jadi berita besar.

Memang, sebelum ada keputusan itu, ada banyak orang yang tahu kualitas permainan Winny. Itu bermula ketika di bulan Juli 2018, Winny yang masih berusia 19 tahun, bisa menembus semifinal Singapore Open 2018 bersama AKbar Bintang Cahyono. Banyak orang terkesima dengan permainannya. Dia terlihat jago bermain di depan net. Tenang. Tidak grusa-grusu. Pintar menempatkan bola (shuttle cock). Responnya sigap. Pukulannya juga cepat.

Melihat permainan Winny, orang jadi teringat dengan Liliyana Natsir. Kebetulan, keduanya sama-sama berasal dari Sulawesi. Winny pun disebut-sebut sebagai calon penerus kesuksesan Butet–panggilan Liliyana. Kala bermain bersama Akbar, Winny juga berhasil meraih gelar di turnamen internasional. Mereka juara Hyderabad Open Super 100 di India pada September 2018. Pencapaian itu menjadi penegas. Bahwa pasangan Akbar dan Winny punya potensi.

Karenanya, ketika PBSI mengumumkan Winny bakal dipasangkan dengan Tontowi yang artinya berpisah dengan Akbar, ada beberapa pecinta bulutangkis yang sejatinya kurang sreg. Kenapa harus Winny. Bukan yang lain. Saya pun sempat merasa begitu. Rasanya eman (sayang).

Siapa tahu mereka bisa langsung nyetel. Seperti saat China memasangkan Zheng Siwei/Huang Yaqiong yang langsung panen gelar dan hingga kini jadi pasangan world number one. Sayangnya, kenyataan berbeda dengan harapan. Pasangan Tontowi/Winny tidak sesuai harapan. Dari beberapa kali tampil di turnamen, mereka tidak pernah mampu tembus final. Pada akhirnya, setelah melakukan evaluasi, PBSI memutuskan untuk memasangkan kembali Winny dengan Akbar. Lantas, Tontowi kemudian memilih mundur dari Pelatnas.

Ada juga faktor internal Tapi yang jelas saya tidak mau menyalahkan sisi personal

Sebab, di bulutangkis, bermain ganda memang butuh chemistry antara dua pemain. Bukan hanya menonjolkan kemampuan satu pemain. Karena dua orang, butuh komunikasi yang cair. Tidak merasa canggung. Juga butuh adaptasi satu sama lain karena mereka sebelumnya bermain dengan pemain berbeda dengan gaya main beda.

Nah, proses memahami satu sama lain itu terkadang tidak bisa cepat seperti merebus mie instan. Butuh waktu. Masalahnya, Tontowi dan Winny dipaksa berpacu dengan waktu. Mereka harus segera meraih hasil bagus dalam persaingan yang ketat demi berburu poin menuju Olimpiade. Jadi, mereka seolah dipaksa padu secepatnya. Sah-sah saja ketika ada orang menyebut pasangan ini tidak berjalan sesuai harapan karena Tontowi tidak bisa ngemong Winny ketika bermain.

Kalau banyak yang lihat kami bermain bagus di turnamen ini, sebenarnya di awal-awal kacau banget. Nggak dapat feel-nya sama sekali. Permainan Akbar dan bang Owi (Tontowi) kan beda. Biasnya bang Owi nutup di sini, Akbar enggak, karena pikirannya beda. Jadi saya harus adaptasi lagi. Menariknya, Winny juga menyinggung Tontowi. Dia mengaku sedih ketika mendengar Tontowi pensiun dari Pelatnas karena merasa belum bisa meraih hasil maksimal selama berpasangan.

Namun, dia mengaku bisa belajar banyak dari pengalaman ketika berpasangan dengan Tontowi. Belajar apa saja yang kurang untuk menjadi pasangan yang saling melengkapi. Belajar pentingnya relasi yang cair ketika bermain ganda. Juga tentang percaya diri. Pada akhirnya, kita berharap, turnamen di rumah sendiri yang digelar PBSI bagi para pebulutangkis Pelatnas tersebut, bisa berdampak bagus. Tidak hanya mengisi kevakuman turnamen akibat pandemi.

Lebih dari itu, pemain-pemain muda juga bisa jadi lebih percaya diri. Serta, mengevaluasi apa saja yang perlu diperbaiki. Dan, ketika nanti, turnamen BWF World Tour, mereka benar-benar sudah siap. Bagaimanapun, Winny dan pemain-pemain muda lainnya adalah aset bagi bulutangkis Indonesia. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *