Terancam Kudeta Ada Apa dengan Juventus Kembali Menelan Hasil Negatif

Posted on

Terancam Kudeta Ada Apa dengan Juventus Kembali Menelan Hasil Negatif – Pada lanjutan giornata 33 Serie A Italia, Juventus nyaris kalah di kandang Sassuolo. Bermain di Mapei Stadium, gol Alex Sandro memaksa hasil imbang 3-3. Ini merupakan lanjutan hasil negatif di 2 giornata sebelumnya. Pada pekan 32, Juventus juga hanya meraih hasil imbang 2-2 di kandang kala bersua dengan Atalanta. Ironisnya, Juventus di-bully sebab mereka dua kali menyamakan kedudukan lewat gol penalti Ronaldo.

Terancam Kudeta Ada Apa dengan Juventus Kembali Menelan Hasil Negatif

Terancam Kudeta Ada Apa dengan Juventus Kembali Menelan Hasil Negatif

Dua hasil imbang di 2 giornata terakhir merupakan lanjutan hasil buruk di pekan ke-31. Si Nyonya Tua yang bertandang ke San Siro tumbang dari AC Milan setelah sempat unggul 2-0. Pasukan Maurizio Sarri pulang ke Turin dengan tertunduk malu setelah keunggulan mereka dibalas 4 gol oleh Milan. Hasil negatif di 3 laga terakhir terjadi setelah mereka meraih 4 kemenangan beruntun di Serie A pascavakum akibat pandemi covid-19. Di 4 laga itu, Juve mencetak 14 gol dan hanya 2 kali kebobolan. Akan tetapi, statistik buruk justru ditunjukkan di 3 laga terakhir.

Si Nyonya Tua hanya meraih 2 poin dari 3 pertandingan. Mereka kalah sekali dan imbang dua kali. Melawan Milan, Atalanta, dan Sassuolo, Le Zebre hanya mencetak 7 gol dan kebobolan 9 gol. Hasil yang jomplang jika dibandingkan dengan 4 laga sebelumnya. Sebagai pendukung tim rival saya pribadi tak terlalu memahami Juventus. Namun, sebagai pecinta Serie A saya cukup paham apa yang kini dirisaukan oleh para Juventini. Mereka menilai, problem utamanya adalah filosofi Sarriball milik Maurizio Sarri yang tak berjalan mulus.

Sebelum itu, ada baiknya kita pahami dulu maksud dari filosofi Sarriball. Tanpa memahami “Sarriball”, kita tak akan tahu sebab Juventus kendor di 3 laga terakhirnya. Mengenal Sarriball, filosofi taktik milik Maurizio Sarri Sarriball merupakan istilah yang disematkan kepada filosofi taktik milik Maurizio Sarri. Istilah ini pertama kali disebut ketika Sarri menangani Napoli. Kala itu, ia menjadikan Napoli sebagai kuda hitam yang memiliki gaya bermain berbeda daripada tim Italia lainnya karena menerapkan permainan menyerang di tengah catenaccio klub-klub Serie A.

Keberhasilan pola ini mengandalkan peran sosok deep lying playmaker

Filosifinya itu disanjung oleh pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi sebagai salah satu perkembangan sepak bola Italia paling penting. Akan tetapi, Sarri sendiri mengaku tak paham maksud dari Sarriball. Istilah itu memang disematkan oleh para jurnalis di Italia dan Inggris. Begitulah kata Sarri ketika di tanya seorang jurnalis soal gagasan sepak bolanya pada 2018 lalu. Konsep “Sarriball” atau di Italia juga disebut “Sarrismo” adalah sebuah konsep taktik sepak bola menyerang yang mengandalkan umpan pendek cepat dari kaki ke kaki one touch pass.

Vertical tiki taka “Sarriball” memberi perintah kepada pemainnya untuk melakukan umpan cepat dengan membentuk pola segitiga kecil. Regista yang memiliki kemampuan mengalirkan bola dari lini belakang kedepan dengan cepat dan akurat. Konsep ini membuat tim yang dilatih Sarri jarang membuat percobaan dribble dan lebih sering menusuk langsung ke depan gawang lawan dengan umpan mendatar.

Untuk memuluskan taktik menyerang ini, Sarri juga menginstruksikan pemainnya untuk menerapkan high pressing kepada lawannya. Sehingga counter cepat bisa segera dilakukan ketika bola berhasil direbut. “Sarriball” sendiri mempunyai pakem formasi yang menjadikan gaya bermainnya menjadi atraktif dan sedap dipandang. Sejak di Napoli, Sarri selalu memakai pakem formasi 4-3-3. Untuk menciptakan high pressing ketika bertahan, formasi ini akan berubah menjadi 4-5-1 atau 4-4-2.

Di Juventus, Sarri tetap menerapkan formasi 4-3-3. Formasi ini sering terlihat berganti menjadi 4-3-1-2 atau 4-3-2-1 namun, intinya tetap menggunakan 3 penyerang di depan. Ketika bertahan, Juve sering merubah formasinya menjadi 4-4-2 menyisakan 2 penyerang dan menambah 1 gelandang untuk memutus aliran bola lawan. Di posisi bek, yang punya kemampuan ball playing defender mumpuni hanya de Ligt dan Demiral. Sebenarnya Bonucci punya kemampuan itu, namun ia rasanya tak cocok dengan formasi 4 bek dan lebih baik ketika bermain dengan formasi 3 bek seperti formasinya Conte.

Selain Problem Tersebut Sarriball Memang Punya Kelemahan Mendasar

Sarri dikenal sebagai seorang pelatih yang keras kepala. Semua pemain yang turun harus mengikuti polanya, maka kreatifitas pemain jarang kita lihat. Selain itu, Ia tak akan mengubah formasi dan taktiknya apapun yang terjadi. Ya, “Sarriball” tak punya plan B ketika buntu. Kapan mengalami kebuntuan? Yaitu, ketika anak asuh Sarri bertemu tim yang menerapkan taktik “parkir bus” atau punya pertahanan solid. Hal ini sangat terlihat ketika Juve kalah dari Milan di giornata 31.

Dua gol Juve bisa dibilang hasil kesalahan bek Milan. Memang, Ronaldo bisa mencetak gol lewat situasi umpan lambung cepat yang menembus pertahanan Milan, sesuatu yang jarang terjadi di permainan Sarri. Namun, setelah mencetak 2 gol, Juve selalu membentur dinding pertahanan solid dari Milan. 2 gol Milan saja tercipta akibat kegagalan pemain Juve menerapkan “Sarriball” yang berbuah serangan balik. High pressing yang diterapkan justru menjadi bumerang bagi Juventus. Di 3 laga terakhirnya, Juventus pasti kebobolan dan salah satu penyebabnya adalah kesalahan bek yang entah dilakukan Bonucci, Danilo, atau Alex Sandro.

Selain kesalahan bek, Juventus juga makin sering mengalami kebuntuan. Karena Sarri tak punya plan B dan sepanjang laga “Sarriball” terus dimainkan tak peduli bagaimana situasi riilnya, maka hanya tinggal menunggu waktu sampai tim lain hafal dengan pola serangan Juventus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *