• December 1, 2020

Pensiun sebab Luka Kepala, Pemain Ini kritikan Kejadian Luiz-Jimenez

 

 

Ryan Mason harus pensiun karena luka dibagian tengkorak kepala. Mason juga lalu mengomentari pengatasan luka beradu kepala David Luiz dan Raul Jimenez.
Laga Arsenal vs Wolverhampton di Emirates Stadium, Senin (30/11/2020) pagi hari WIB baru saja berjalan 5 menit waktu tanding udara seram di antara Luiz dan Jimenez berlangsung. Bentrokan yang diterima Jimenez membuat tidak dapat meneruskan permainan.

Saat itu, Luiz mendapatkan perawatan seputar 10 menit. Luiz yang berdarah kenakan perban di kepalanya dan sempat bermain sampai babak pertama habis, saat sebelum diganti Rob Holding.

Lalu, bagaimana Jimenez? Pemain dari Meksiko itu langsung dibawa ke rumah sakit. Dalam perubahannya, tengkorak Jimenez retak untuk selanjutnya dioperasi. Sekarang ini keadaan Jimenez telah konstan pascaoperasi dan menanti pemulihan yang tentu saja memerlukan waktu lama.

Pasalnya luka kepala termasuk sangatlah riskan dan dapat memberikan ancaman nyawa pemain. Ryan Mason, mantan pemain Tottenham Hotspur dan Hull City, jadi korban dari luka kepala ini.

Pada 2017, Mason bertabrakan kepala dengan bek Chelsea Gary Cahill. Sayang, profesi Mason tidak dapat bersambung sebab luka itu hingga harus pensiun awal di umur 26 tahun.

Mason lalu gaungs menyaksikan pengatasan luka Jimenez dan khususnya Luiz yang diberi peluang untuk main

Menurut Mason, ini dapat mencelakakan profesi Luiz.

“Saya benar-benar berduka menyaksikan hal ini berlangsung kembali di atas lapangan sepakbola, ini benar-benar serius,” tutur Mason ke talkSPORT.

“Benar-benar sayang kejadian saya dahulu tidak mengganti apapun; apa yang semestinya dikerjakan beberapa orang ialah mulai mengetahui jika ini ialah suatu hal yang paling, benar-benar serius,” tambahnya.

“Jujur saja, saya kaget sekali David Luiz masih dibolehkan main. Saya tidak mengomentari team dokter Arsenal sebab ialah prosedur di situ dan saya percaya ia telah mengikut itu.”

“Tetapi, prosedur kesehatan yang ada masih kurang bagus; tidak cukup diberi waktu 2-3 menit, masih kurang.”

“Saya menyaksikan dan langsung memikir jika ke-2 pemain itu tidak bisa bermain kembali. Kadang Anda harus dapat lupakan prosedur dan sedikit memikir logis.

“Ketentuannya harus dirubah. Terang waktu lima menit di atas lapangan itu tidak cukup buat memutus apa seorang pemain itu gegar otak atau mungkin tidak, yang ada malahan tergesa-gesa.”

“Prosedur yang ada sekarang ini tidak baik dan benar-benar beresiko,” tutup Ryan Mason.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *