Mattia Perin pernah ditunjuk jadi penebar COVID-19 di tim Genoa. Penjaga gawang 27 tahun itu memberikan bantahan keras.
Awalnya, 14 anggota team Genoa dipastikan positif terkena virus Corona. Mengakibatkan, pertandingan menantang Torino yang semestinya diadakan di Sabtu (3/10) sangat terpaksa diundur.

Terakhir, jumlah itu makin bertambah jadi 22 orang, di mana 17 salah satunya ialah pemain. Tetapi sekarang ini dikit demi sedikit anggota tim Genoa itu telah ada yang pulih, termasuk juga Perin.

Namun, sebab Perin adalah orang pertama kali di Genoa yang dipastikan positif COVID-19, dia pernah ditunjuk jadi penebar virus itu. Perin juga meradang serta menyanggah dakwaan yang dialamatkan padanya.

“Di Senin (21/9), sebelumnya pertandingan Napoli versus Genoa, saya ke Turin untuk berjumpa istri serta anak saya. Berkebalikan yang orang sebutkan, tidak ada bukti saya terkena virus Corona di hari itu,” narasi Perin ke La Repubblica.

“Lalu hari Rabu, kami jalani swab tes, hasilnya keluar Kamis pagi. Semua berjalan baik-baik saja, tetapi saat malam harinya saya alami demam.”

Perin selanjutnya dipastikan positif COVID

Perin selanjutnya dipastikan positif COVID-19 di Sabtu (26/9). Dia mangkir bela Genoa satu hari sesudahnya, di mana mereka dibantai Napoli 0-6.

“Ini penyakit yang jahat. Kamu dapat terkena di taksi, atau hanya sebab memencet tombol lift. Keluarga saya semua negatif, kok,” sambung Perin.

“Beberapa dokter ahli bahkan juga tidak tahu banyak masalah penyakit ini. Serta saya tekankan, kerusuhan pertandingan Juventus versus Napoli bukan berasal dari Genoa.”

“Hal tersebut dapat berlangsung di siapa. Kalau kami ialah Real Madrid, Inter Milan, atau Juventus, kami kemungkinan bertambah disegani berkaitan ini. Terserang penyakit ini bukan noda, tapi suatu hal yang lumrah berlangsung di manusia.”

“(Cristiano) Ronaldo saja terkena, (Donald) Trump terkena. Itu berarti COVID-19 ini mematikan serta harus disikapi serius.”

Perin memperjelas jika dia bukan pemicu jumlahnya pemain di Italia yang terserang virus Corona. “Saya bukan penebar virus di sepakbola Italia,” keras penjaga gawang Juventus yang tengah dipinjam oleh Genoa itu.

Keputusan pelatih Inter Milan Antonio Conte mainkan Aleksandar Kolarov untuk bek tengah disoroti. Kolarov dipandang menjadi penyebab Inter kalah dari AC Milan.
Inter harus kalah di Derby della Madonnina. Mereka kalah 1-2 dari Milan di Giuseppe Meazza di pekan ke-4 Serie A, Sabtu (17/10/2020) malam WIB.

2 gol kemenangan Rossoneri di laga ini diboyong oleh Zlatan Ibrahimovic. Inter cuman sanggup membalas melalui Romelu Lukaku.

Di laga ini, keputusan Antonio Conte yang mainkan Kolarov untuk bek tengah mendapatkan banyak perhatian. Pemain dari Serbia ini sendiri awalnya lebih sering kali bermain untuk bek kiri.

Kolarov dipandang banyak pihak punyai peran besar membuat Inter kecolongan 2 gol di laga ini. Gol pertama kali Milan pada menit ke-13 berawal dari pelanggaran Kolarov di kotak penalti ke Ibrahimovic.

Penalti Ibrrahimovic sempat memang dihalau Samir Handanovic. Tetapi, bola liar langsung disikatnya menghasilkan gol.

3 menit berlalu, bek 34 tahun ini tidak lumayan baik jaga Ibrahimovic di tiang jauh. Ini membuat Ibrahimovic dengan gampang membuat gol menyikat umpan Rafael Leao.

Conte mengaku jika gol Milan itu tidak semestinya berlangsung. Walau demikian, dia malas mempersalahkan Kolarov.

Conte minilai ketetapannya turunkan Kolarov di bek tengah telah pas. Mantan manager Chelsea, dia memang tidak punyai beberapa pilihan bagian bek tengah selesai Inter melepaskan Diego Godin ke Cagliari.

Dia cuman mempunyai 3 bek tengah murni yang siap bermain yakni Stefan de Vrij, Alessandro Bastoni serta Andrea Ranochia. Sesaat, Milan Skriniar tidak dapat bermain selesai dipastikan positif COVID-19

“Ke-2 gol itu seutuhnya dapat dijauhi, itu pastinya. Sekarang ini, saya berasa berikut peranan terbaik untuk Kolarov,” tutur Conte diambil dari Football Italia.

Ia melakukan untuk Roma, serta. Itu opsi status sangat pintar buatnya.”

“Kami mempunyai 2 bek sayap yang paling menyerbu serta 2 striker murni, jadi kesetimbangan penting. Tetapi beberapa masih menyambat sebab pengin ada trequertista di situ,” tuturnya.

Bukti menarik masalah upah bintang Juventus, Cristiano Ronaldo. Upah CR7 satu tahun di Juve, sama atau lebih besar dari keseluruhan upah pemain di 4 team Serie A ini.
Dikutip dari media Italia, La Gazzetta dello Sport disebut jika upah Cristiano Ronaldo di Juventus sepanjang satu tahun sentuh angka 31 juta euro. Bila dijadikan rupiah, sama dengan Rp 539 miliar. Itu membuat Cristiano Ronaldo untuk pemain dengan upah paling tinggi di Liga Italia.

Upah Cristiano Ronaldo satu tahun itu juga lebih besar dari keseluruhan upah beberapa pemain dari 4 club Serie A yang lain. 4 club itu ialah Udinese, Hellas Verona, Spezia serta Crotone.

Cristiano Ronaldo sendiri masih terjalin kontrak sampai tahun 2022 kedepan. Berarti masih 2 tahun lagi Ronaldo akan mengenakan seragam Juventus serta minimal 2 tahun kedepan keseluruhan upahnya tembus angka Rp 1 triliun.

Itu baru penghasilan Cristiano Ronaldo dari club. Belum juga dari sponsor serta yang lain, seperti harga iklan di posting-an Instagram Cristiano Ronaldo.

 

 

Tahukah kamu, 1 posting-an Cristiano Ronaldo dihargai sebesar USD 975 ribu. Bila dijadikan rupiah, sama dengan Rp 13,6 miliar!

Kembali lagi masalah upah Cristiano Ronaldo di Juventus. Rekanan segrupnya yang upahnya ke-2 paling tinggi di club berjulukan Sang Nyonya Tua itu ialah bek tengah Matthijs de Ligt.

Upah pemain dari Belanda itu satu tahun sejumlah 8 juta euro. Bila dijadikan rupiah, sama dengan Rp 139 miliar. Masih terlalu jauh dari Cristiano Ronaldo!

Cristiano Ronaldo juga memutar uangnya dengan melakukan bisnis. Salah satunya bisnisnya ialah membangun jaringan hotel namanya Pestana CR7 di sejumlah negara Eropa seperti pada Portugal, Spanyol, serta Prancis.